OMK Menghidupi Pancasila sebagai Ideologi dan Sistem Etika Masyarakat Indonesia dalam Rangka Membangun Keadilan Sosial
OMK
Menghidupi Pancasila sebagai Ideologi dan Sistem Etika Masyarakat Indonesia dalam Rangka Membangun Keadilan Sosial*
Xalastinus Jasper Hanta
I.
Pendahuluan
Eksistensi Pancasila sebagai dasar
dan ideologi negara sangat mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di
Indonesia. Dari segi etika, Pancasila bisa menjaga Indonesia khususnya dalam
kehidupan bermasyarakat. Pancasila sebagai sistem nilai dapat menjadi pegangan
bersama dalam menopang tindakan etis dan moral masyarakat Indonesia secara
keseluruhan. Pancasila dan etika memiliki kesamaan khususnya karena mengajarkan
nilai-nilai kebaikan. Dalam hal ini, Pancasila dari segi etika dapat pula
disebut etika Pancasila karena mengandung penilaian baik dan buruk berdasarkan
nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan
nilai keadilan sosial (Sri Rahayu Amri, 2018; 760). Pancasila dapat menjadi
sistem etika yang sangat kuat karena nilai-nilai ini tidak hanya bersifat
mendasar tetapi juga realistis dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan
bernegara dan bermasyarakat.
Kaum muda adalah salah satu
penopang kemajuan bangsa Indonesia. Saat ini, kaum muda harus bergerak lebih
maju lagi. Kaum muda tidak lagi hanya berhenti pada taraf dibina sebagai calon
pemimpin, generasi penerus bangsa. Kaum muda perlu didorong untuk berani
terlibat dan bergerak secara konkret dalam memajukan bangsa. Dalam konteks
mewujudkan keadilan sosial, kaum muda dirasakan perlu mengetahui, memahami,
memaknai dan mengaplikasikan Pancasila sebagai sistem etika. Apalagi keadilan
sosial adalah poin kelima dari Pancasila di mana setiap silanya saling
berkaitan. Dalam konteks inilah, orang muda Katolik (OMK) dapat berperan aktif
dalam membangun keadilan sosial di tengah masyarakat Indonesia.
II.
Pancasila sebagai Ideologi dan Sistem
Etika Negara Kesatuan Republik Indonesia
1. Pancasila
sebagai Ideologi
Pemahaman
tentang ideologi sangat penting untuk memahami Pancasila sebagai ideologi.
Secara etimologis, istilah ideologi diambil dari kata Yunani yakni idea
dan logos (Mubaligh, 2010; 113). Kata idea ini memiliki akar kata
lagi idein yang berarti melihat. Sementara itu, logos juga
memiliki padanan kata lain yakni legein yang berarti ilmu atau teori.
Pancasila
adalah ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak kemerdekaan
Indonesia. Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Eksistensi Pancasila hari
ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya Pancasila sejak kemerdekaan
negara Indonesia. Pancasila adalah hasil dari proses penyatuan ide-ide para
tokoh dengan latar belakang ideologinya masing-masing pada zaman sebelum
kemerdekaan. Apalagi, Indonesia memiliki kemajemukan khususnya dalam bidang
agama, etnis, kebudayaan, adat istiadat, bahasa, sosial, politik, pendidikan,
geografis, ekonomi yang membentang dalam wilayah Indonesia. Pembentukan dasar
negara ini tentunya harus semaksimal mungkin mengayomi kemajemukan yang ada di
Indonesia ini.
Untuk
membentuk dan merumuskan dasar NKRI Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk. Dalam persidangan BPUPKI inilah,
Pancasila lahir dan dirumuskan saat membahas dasar negara, khususnya saat Ir.
Seokarno berpidato pada tanggal 1 Juni 1945 (J. Asshiddiqie, 2008; 13). BPUPKI
ini dibentuk atas bantuan dari pemerintah Jepang yang saat itu menduduki
Indonesia. Meskipun demikian, para anggota BPUPKI tidak semuanya berasal dari
Jepang. Para anggota BPUPKI justru mayoritas berasal dari orang-orang Indonesia
sendiri yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Pemerintah Jepang
berusaha agar BPUPKI ini merepresentasikan pendidikan, status sosial, kesukuan,
hingga agama yang ada di Indonesia. Berdasarkan pendidikan, para anggota BPUPKI
ada yang merupakan alumni pesantren, pendidikan tinggi di Belanda, dan
pendidikan tinggi Eropa lainnya. Berdasarkan agama, meskipun para anggota
BPUPKI mayoritas beragama Islam, ada juga yang beragama Kristen, Budha, Hindu,
dan Confusian. Tugas BPUPKI ini kemudian dilanjutkan oleh Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pancasila
sebagai ideologi bangsa mengandung nilai-nilai yang sesuai untuk diterapkan di
Indonesia. Selain karena pembentukan Pancasila yang melibatkan banyak pihak,
Pancasila juga dirancang sebagai ideologi yang mengayomi bangsa Indonesia
secara keseluruhan. Pancasila ini diakui oleh masyarakat dan menjadi tujuan
bangsa Indonesia karena memuat nilai-nilai dari cita-cita bangsa Indonesia (Al
Halim, 2016; 518). Ideologi Pancasila menjadi dasar pelaksanaan ketatanegaraan
di Indonesia. Sebagai dasar pelaksanaan ketatanegaraan, Pancasila ini memuat
nilai-nilai yang khas bagi bangsa Indonesia. Meskipun demikian, nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila juga memuat nilai universal yang dapat diterima
oleh bangsa-bangsa lainnya. Artinya, Pancasila sebagai ideologi negara sangat
kontekstual bagi sebagai dasar negara dan keberlangsungan bangsa karena di satu
sisi menonjolkan kekhasan yang dimiliki oleh Indonesia dan di sisi lain juga
mengandung nilai universal yang memungkinkan Indonesia memberikan sumbangan
bagi bangsa-bangsa di dunia.
2. Pancasila
sebagai Sistem Etika
Ada
penekanan masing-masing pada setiap sila Pancasila. Meskipun demikian, nilai
etika dalam sila-sila Pancasila ini memiliki keterkaitan yang sangat erat satu
sama lain (S.R. Amri, 2018; 762). Sebagai sebuah sistem, nilai-nilai ini harus
dilihat secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan. Nilai-nilai yang terdapat
dalam Pancasila tergambar dari kelima silanya. Nilai-nilai itu adalah nilai
ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai
keadilan. Pertama, nilai ketuhanan menghasilkan nilai spiritualitas, ketaatan,
dan toleransi. Kedua, nilai kemanusiaan menghasilkan nilai kesusilaan seperti
tolong menolong, penghargaan, penghormatan, dan kerja sama. Ketiga, nilai
persatuan berkorelasi dengan nilai cinta tanah air dan pengorbanan. Keempat,
nilai kerakyatan menghasilkan kebaikan di tengah masyarakat, menghargai
perbedaan, dan memperhatikan kesetaraan. Kelima, nilai keadilan menghasilkan
kepedulian, kesejajaran ekonomi, dan kemajuan secara bersama-sama.
a) Nilai
Ketuhanan: Spiritualitas
Kalau dilihat dari
posisinya, nilai ketuhanan merupakan nilai yang tertinggi dari nilai Pancasila
lainnya. Nilai ketuhanan ini bersifat mutlak. Artinya, nilai-nilai kebaikan
yang muncul dalam kehidupan manusia bersumber dari nilai ketuhanan. Dalam hal
ini, kaum muda harus membangun nilai ketuhanannya dengan menggali nilai
spiritualitas dari budaya maupun agamanya. Orang muda Katolik sebagai tonggak
pembangunan bangsa maupun Gereja harus menyadari pentingnya membangun
spiritualitas dari budaya Indonesia khususnya budaya lokalnya masing-masing.
Selain itu, sebagai seorang Katolik, OMK juga harus semakin memperdalam
spiritualitas Kristianinya dengan giat mengikuti kegiatan-kegiatan Gerejawi.
Kegiatan-kegiatan ini entah yang sifatnya profan maupun rohani penting diikuti
oleh OMK sebagai bagian untuk membangun kecintaan dan pengembangan
spiritualitas iman Katolik mereka masing-masing.
b) Nilai
Kemanusiaan
Salah satu implementasi
nilai kemanusiaan adalah pembangunan manusia. Pembangunan manusia di dunia
digital ini dapat ditempuh dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pembangunan ini dilakukan untuk meningkatkan manusia-manusia Indonesia.
Pembangunan manusia yang dilakukan secara serius dapat menjadi modal berharga
bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kemajuan. Pembangunan sumber daya manusia
inilah yang menjadi tonggak bagi perkembangan bangsa Indonesia untuk menjadi
negara yang maju dan berdaulat. Karenanya, OMK perlu dibina khususnya dalam
memajukan pengetahuan umum dan juga pemanfaatan teknologi dengan baik dan
seefektif mungkin.
Pembangunan
manusia dan iptek ini sangat penting bagi manusia Indonesia untuk memperoleh
kemajuan seperti negara-negara modern. Meskipun demikian, pembangunan manusia
juga mesti memperhatikan pengetahuan akan kebudayaan Indonesia dan budaya lokal
daerah asalnya. Nilai kebudayaan lokal inilah yang membuat manusia Indonesia
memiliki kekhasan di tengah perkembangan manusia di zaman modern. Dalam
kesadaran ini, OMK mesti membangun diri dalam perkembangan modern sekaligus
semakin menanamkan nilai-nilai lokal khas Indonesia.
c) Nilai
Persatuan Indonesia
Pancasila
adalah dasar ideologi bangsa Indonesia. Sebagai sebuah ideologi, jika dilihat
dari proses terbentuknya, Pancasila merupakan hasil diskusi yang panjang dari
para tokoh negara yang memiliki latar belakang ideologi yang berbeda-beda.
Meskipun demikian, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dalam sejarahnya
seringkali dirongrong oleh gerakan-gerakan separatis yang hendak memisahkan
diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan hendak menggunakan ideologi
lain.
Dalam
taraf ini, orang muda termasuk OMK harus menyadari pentingnya menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia. Seperti kita ketahui, saat ini ada beberapa
fenomena yang menunjukkan gerakan-gerakan intoleran dan separatis yang dapat
memecah-belah bangsa. Orang muda Katolik perlu memahami gerakan ini dan mulai
berani bergerak sebagai pelopor pembangunan gerakan-gerakan toleransi di tengah
masyarakat Indonesia. Perbedaan seharusnya dimaknai sebagai jalan untuk semakin
mempersatukan bangsa Indonesia.
d) Nilai Kerakyatan
yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Peran
pemerintah untuk hadir di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat memiliki
makna yang penting dalam pengamalan nilai Pancasila. Pengamalan ini terlebih
khusus banyak menyangkut nilai pada sila keempat yakni kerakyatan yang dipimpin
oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Wujud kehadiran pemerintah
memang sangat penting dalam pemaknaan nilai kerakyatan ini. Meskipun demikian,
masyarakat juga mengambil peran yang amat besar dalam memaknai nilai kerakyatan
ini. Kaum muda dalam hal ini termasuk OMK juga sangat penting memaknai nilai
kerakyatan ini. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh OMK untuk memaknai nilai
kerakyatan ini seperti taat berlalu-lintas, taat pada peraturan pemerintah, dan
mengikuti petunjuk-petunjuk pemerintah dalam rangka memajukan bangsa Indonesia.
e) Nilai
Keadilan Sosial
Keadilan
sosial adalah sila kelima dalam Pancasila. Dalam mewujudkan keadilan sosial
ini, orang muda, termasuk OMK juga memiliki peran yang amat penting sebagai
bagian dari masyarakat Indonesia. Nilai keadilan sosial ini mesti diwujudkan
dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing individu sehingga terjadi
keseimbangan. Dalam hal ini, keadilan sosial yang dimaksud adalah memberi
perhatian kepada yang memang membutuhkan. Karenanya, perlu kesadaran dari semua
pihak termasuk OMK untuk saling memberi perhatian kepada sesama yang
membutuhkan. Fenomena yang terjadi tidak bisa dipungkiri, justru banyak pihak
yang sebenarnya tidak membutuhkan semakin egois mengambil hak-hak mereka yang
memang membutuhkan. Kesadaran keadilan sosial ini dapat diwujudkan jika setiap
individu menanamkan betul makna menjadi manusia yang hidup dengan nilai-nilai
spiritual, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sebagai manusia Indonesia
dan dunia. OMK dapat berperan aktif dan dapat menjadi penggerak dalam perwujudan
keadilan sosial di tengah masyarakat.
III.
Penutup
Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan
Republik Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dalam proses berbangsa dan bernegara, Pancasila juga mengandung
sistem nilai yang terdiri atas nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai
persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai-nilai ini merupakan
sebuah satu kesatuan yang saling terkait. Dalam konteks mewujudkan keadilan
sosial, pemahaman dan aplikasinya pun perlu melibatkan nilai-nilai lainnya yang
terkandung dalam Pancasila sebagai sebuah kesatuan. Orang Muda Katolik (OMK)
sebagai generasi penerus bangsa dan Gereja memiliki peran yang amat penting
khususnya dalam memaknai Pancasila sebagai sistem etika. Oleh karena itu, OMK
harus bergerak aktif tidak hanya menjadi penonton tetapi mulai belajar untuk
bergerak di dalam masyarakat sambil memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila dalam rangka mewujudkan keadilan sosial.
*Tulisan akan segera terbit di Majalah Dialog Edisi Paskah 2023
Komentar
Posting Komentar