Tulisan Ilmiah Paham Ketuhanan
RANGKUMAN PARADIGMA SIGMUND FREUD DALAM PAHAM KETUHANAN
1.
Latar
Belakang dan Paradigma Sigmund Freud
a.
Latar
Belakang Sigmund Freud
Sigmund Freud
adalah seorang psikolog dari Vienna, Austria. Ia hidup pada rentang tahun 1856
hingga 1939. Selama itu, ia telah membuat sejumlah karya yang berguna bagi
dunia kedokteran dan masyarakat umum. Keluarganya merupakan penganut agama
Yahudi. Saat masih anak-anak, keluarga
Freud pindah ke Vienna. Sejak menempuh pendidikan di sekolah menengah, Freud
adalah seorang pelajar yang berbakat. Ia belajar bahasa Yunani, Latin, dan
Ibrani. Ia juga menguasai bahasa lain seperti bahasa Jerman, Perancis, Inggris,
Spanyol, dan Italia[1].
Pada tahun 1873, ia melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Vienna.
Latar belakang
kehidupan, minat, dan keilmuan Sigmund Freud sangat berpengaruh dalam
pengembangan karyanya. Buku pertama yang ia terbitkan bersama Jean Martin
Sharcot, seorang psikolog Perancis, berjudul Studies on Hysteria pada
tahun 1895. Buku inilah yang menjadi cikal bakal pemikiran Freud yang disebut
sebagai psikoanalisis[2]. Karya-karya
lain yang dituliskan oleh Sigmund Freud antara lain: The Interpretation of
Dreams. The Psychophatology of Everyday Life (1901) dan Three Essays on the
Theory of Sexuality (1905). Beberapa pemikirannya tentang agama termuat
dalam buku berjudul Totem and Taboo (1913), The Future of Illusion (1927),
dan Moses and Monotheism (1938).
b.
Paradigma
Sigmund Freud
Sigmund Freud
memiliki paradigma yang menjadi dasar pemikirannya. Paradigmanya itu ia gunakan
sebagai bahan kajiannya dalam bidang kedokteran hingga merambah hidup
keagamaan. Paradigma pertama sangat identik dengannya adalah psikoanalisis. Psikoanalisis
yang dicetuskan oleh Sigmud Freud ini dilandaskan pada filsafat positivisme[3]. Dalam
paradigma psikoanalisis ini terdapat beberapa istilah kunci, yakni id, ego,
dan superego. Ketiga unsur ini saling berinteraksi dan sangat menentukan
tindakan manusia termasuk dalam kehidupan keagamaan. Selain itu, istilah kunci
yang terdapat dalam pemikiran Freud adalah alam bawah sadar. Alam bawah sadar
ini memiliki kaitan erat dengan alam sadar, dan alam pra-sadar manusia. Istilah
kunci lainnya yang digunakan oleh Freud adalah seksualitas kanak-kanak dan kompleks
Oedipus. Seksualitas kanak-kanak dan kompleks Oedipus ini memiliki
kaitan erat dengan istilah totem dan taboo yang dikembangkan oleh
Freud. Istilah totem dan taboo ini berisi tentang pandangan Freud
mengenai agama-agama primitif.
2.
Komponen-komponen
Pemikiran Freud dalam Kajian Agama/Ketuhanan
a.
Psikoanalisis:
Id, Ego, Superego
Psikoanalisis
merupakan pandangan yang dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam bukunya yang
berjudul The Interpretation of Dreams. Dalam tulisannya, Freud
mengemukakan bahwa tindakan manusia memang didasarkan pada alam sadar. Meskipun
demikian, tindakan manusia sebenarnya lebih dipengaruhi alam pra-sadar dan alam
bawah sadar. Bahkan menurut Freud, alam bawah sadar memiliki peran yang sangat
penting dalam tindakan manusia.
Ketiga alam
pikir manusia itu merupakan landasan Freud untuk mengemukakan pandangan tentang
struktur kepribadian. Struktur kepribadian ini terdiri atas id, ego, dan
superego[4].
Id merupakan struktur paling dasar kepribadian manusia. Id bekerja
secara tidak disadari dan menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan prinsip kesenangan
dan tujuan pemenuhan kepuasan yang harus segera dipenuhi. Dalam id ini
terdapat unsur hewani manusia seperti dorongan ‘ingin’ makan, berhubungan seks,
bahkan membunuh. Ego merupakan struktur kepribadian yang mengontrol
kesadaran dan pengambilan keputusan. Ego berkembang dari id. Sementara
itu, superego merupakan perkembangan dari ego. Superego berperan
untuk membedakan nilai baik dan buruknya sebuah tindakan dan menyangkut moral.
Dalam cara
kerjanya, ketiga struktur kepribadian ini saling berhubungan. Ego selalu
menghadapi konflik dengan tuntutan antara id dan superego[5].
Ego dituntut untuk mengatasi ketegangan ini. Meskipun demikian, ego juga bisa
saja tidak bisa mengatasi ketegangan antara keduanya. Ketika hal itu terjadi,
kecemasan akan muncul dalam diri manusia.
Berhubungan
dengan alam pikiran manusia, Freud juga mengemukakan gagasannya. Menurutnya,
aktivitas psikis pada awalnya berbentuk tidak sadar[6]. Dalam
hal ini ketidaksadaran yakni hasrat yang terdapat dalam id ditolak oleh ego
sebagai kesadaran untuk menentukan tindakan, setelah terjadi tegangan dengan superego.
Meskipun demikian, penolakan ego tidak selalu dalam bentuk konflik.
Penolakan ego terhadap id dalam realitas juga dapat berganti menjadi
pemuasan dalam bentuk mimpi-mimpi atau sistem neurotik tubuh. Dalam mimpi-mimpi
ini, terdapat keinginan untuk memenuhi harapan. Mimpi menjadi tempat pemenuhan
harapan tersembunyi yang ditekan dari realitas sehingga membutuhkan
interpretasi dan analisis. Dengan demikian, permasalahan kehidupan dalam
realitas seperti trauma tersembunyi bisa dianalisis dengan pertolongan mimpi.
b.
Seksualitas
Kanak-kanak dan Kompleks Oedipus
Dengan metode psikoanalisis,
Freud memberikan gambaran tentang kehidupan mental seseorang dalam keadaan
normal. Metode ini ia gunakan untuk menganalisis kehidupan mental anak-anak
yang acapkali dilupakan. Hal itu berkaitan dengan perkembangan kehidupan seks
anak-anak yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan anak-anak.
Gagasan
selanjutnya yang ia bahas menyangkut seksualitas anak-anak dan konsep Kompleks
Oedipus. Kata ‘oedipus’ sendiri diambil dari mitos Yunani yakni Oedipus
karangan Sophocles, seorang dramawan Yunani kuno. Dalam mitos tersebut, Oedipus
membunuh ayahnya, Laius untuk menikahi ibunya yang bernama Jacosta[7].
Dalam perkembangan psikoanalisis seksual di masa kanak-kanak, seorang anak
(laki-laki) memiliki kecemburuan terhadap ayahnya. Anak laki-laki akan menganggap
ayahnya sebagai saingan dalam meraih cinta dari ibunya sendiri yang juga istri
ayahnya.
Konsep
seksualitas kanak-kanak dituliskan Freud dalam bukunya yang berjudul The
Three Essays on Theory of Sexuality. Dalam buku ini, Freud menjelaskan
bahwa, masa kanak-kanak terdiri atas beberapa fase, yakni fase oral, anal, dan pallic
(zakar)[8].
Fase oral berkaitan dengan kepuasan anak yang diperoleh dengan mengisap zat
makanan dari payudara ibu. Fase anal yang dialami oleh anak usia 18 bulan
hingga 3 tahun, berkaitan dengan kepuasan karena pengaturan pengeluaran
kotoran. Sementara itu, fase pallic dialami oleh anak usia tiga tahun ke
atas. Pada fase itu, anak mengalami kepuasan hasrat dengan masturbasi dan
pikiran berbau seks. Fase ini akan semakin sempurna ketika anak mencapai usia
belasan tahun.
Sementara itu, dalam
Kompleks Oedipus, Freud menjelaskan bahwa seorang anak memiliki hasrat untuk
mendapatkan kenikmatan seks melalui penisnya. Hasrat ini muncul pada fase phallic.
Hasrat itu tertuju pada ibunya sehingga kemungkinan yang harus ia tempuh
adalah menggantikan posisi ayahnya[9].
Dari hasrat itu, ada dua sisi perasaan yang dialami oleh anak. Di satu sisi, ia
merasa benci karena kondisi yang mengharuskannya bersaing dengan ayahnya.
Ibunya yang mengetahui hasrat itu pasti tidak akan berani menyentuh organ seks
anak tersebut karena takut dengan suaminya. Bahkan, jika ketahuan oleh ayahnya,
ada ancaman pemotongan organ kelamin sang anak. Sang anak menjadi takut
kehilangan organ kelamin sehingga menutup hasrat itu. Selanjutnya sang anak
akan menyembunyikan hasrat itu dan mencari pelampiasan lain dengan membayangkan
hal-hal yang berbau seks. Dalam pertumbuhannya, sang anak tidak pernah
menghilangkan hasrat itu sepenuhnya ataupun kecemburuannya terhadap ayahnya.
Konflik oedipal
merupakan konsep yang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Konflik oedipal ini
sebenarnya juga merupakan masalah masyarakat selain masalah individu[10].
Jika dorongan ini terlambat diatasi, keluarga menjadi batu sandungan bagi
perkembangan anak. Jika dorongan ini tidak dapat diatasi, penyimpangan hubungan
seks sedarah dapat saja terjadi sehingga merusak anak, keluarga hingga
masyarakat. Kontrol atas kemungkinan ini harus dilakukan untuk menjaga
peradaban manusia. Caranya adalah mengusahakan keseimbangan pada diri anak
khususnya pengendalian pada masa awal fase tersebut berlangsung.
3.
Uraian
terhadap Indikator terkait Komponen-Komponen Pemikiran Freud
Setelah
menguraikan tentang konsep psikoanalisis, seksualitas anak-anak, dan Kompleks
Oedipus, Freud merambah dunia keagamaan sebagai objek kajian konsep-konsepnya.
Kajiannya dalam bidang keagamaan itu dituliskan dalam tiga buku. Tiga buku
pendekatan Freud terhadap agama itu antara lain: Totem and Taboo, The Future
of an Illusion, dan Moses and Monotheism.
a.
Uraian
tentang Totem and Taboo
Totem and Taboo merupakan buku Freud yang berisi tentang penafsiran
psikoanalisis terhadap kehidupan dan keagamaan masyarakat primitif. Dalam
penerapannya, Freud amat terpengaruh dengan konsep evolusi biologis Darwin,
evolusi ide-ide, dan intelektual. Dari konsep evolusi tersebut, Freud mengemukakan
bahwa kita dapat menemukan tanda-tanda penting tentang peradaban saat ini dalam
kebudayaan masa lalu[11].
Syaratnya adalah menemukan tanda-tanda kepribadian seseorang yang telah dewasa
di masa kanak-kanaknya.
Dalam kehidupan
masyarakat primitif terdapat totem (penggunaan binatang sakral) dan taboo
(tabu). Dalam kebiasaan totem, masyarakat hidup secara berkelompok sebagai
suatu suku dan mengasosiasikan diri dengan binatang atau tumbuhan tertentu
sebagai objek sakral. sementara itu, kebiasaan lain yang terbentuk dalam
masyarakat primitif adalah tabu atau sesuatu yang dilarang. Tabu yang paling
lama dan kuat dipegang oleh masyarakat terdiri atas tiga hal yakni larangan incest
atau kawin sedarah, larangan berburu dan memakan binatang totem kecuali
dalam upacara tertentu. Kemungkinan ketiga yang dimunculkan oleh Freud adalah
larangan itu hanya dapat muncul kalau sebelumnya sudah ada orang yang ingin
melanggarnya.[12]
Pandangan Freud ini sangat khas dan berbeda dari para teoretikus sebelumnya
yang membahas tentang totem dan tabu.
Kemungkinan
ketiga yang dimunculkan oleh Freud ini menjadi pintu masuk analisis alam bawah
sadar dan psikoanalisis. Ternyata masyarakat primitif juga diliputi perasaan alam
bawah sadar tentang kebencian terhadap leluhur yang dianggap sebagai roh jahat.
Praktek totem dan tabu menggambarkan kepada kita tentang ambivalensi psikis
yang membukakan pintu kekuatan emosi manusia pada masa awal sejarahnya[13]. Bagi
seorang anak laki-laki, frustasi dan kecemburuan terhadap ayahnya ada dalam
dirinya karena ingin menjadi suami dari ibunya.
Pada tahap awal,
para anak laki-laki bersatu membunuh dan memakan ayahnya, serta menjadi suami
dari ibunya. Pembunuhan yang pertama itu awalnya membawa kesenangan. Akan
tetapi, setelah dipikirkan, mereka merasa bersalah dan menyesal. Untuk
mengembalikan keberadaan ayah mereka itu, mereka menyembah binatang totem dan
membuat larangan pada pembunuhan dan juga kawin sedarah. Karena hasrat seksual
itu tetap hidup, sang anak harus mendapatkan istri dari suku lain. meskipun
demikian, pada waktu tertentu binatang totem diburu dan dimakan. Pengorbanan
totem itu dimaknai sebagai upacara pengenangan pembunuhan pertama di mana cinta
mereka kepada sang ayah kembali dihidupkan.
b.
Uraian
tentang The Future of An Illusion
Buku berjudul The
Future of An Illusion ini memiliki fokus yang berbeda dengan buku Totem
and Taboo. Dalam buku sebelumnya, Freud berfokus pada masa lalu yakni zaman
prasejarah. Dalam buku ini, Freud melihat agama yang ada saat ini dan
memproyeksikan keberadaannya pada masa depan. Buku ini lebih fokus pada
kepercayaan kepada Tuhan daripada ritual-ritual[14].
Kepercayaan terhadap tuhan itu membantu manusia untuk menghilangkan kecemasan
(seperti dalam konsep psikoanalisis) terhadap ancaman hukum alam seperti
kerusakan dan kematian. Kematian tidak dianggap lagi sebagai ancaman karena
adanya keyakinan bahwa roh akan kembali kepada tuhan. Bagi Freud, kepercayaan
ini adalah ilusi. Ilusi ini merupakan satu keyakinan yang dipegang oleh
seseorang dan selalu benar. Dalam psikoanalisis, perasaan ini sama dengan anak
yang mengharapkan perlindungan ayahnya.
c.
Uraian
tentang Moses and Monotheism
Dalam buku ini,
Freud membedah tentang sejarah agama Yahudi dengan menggunakan psikoanalisis. Dalam
pandangannya, Freud menyampaikan bahwa Musa merupakan orang Mesir yang membawa
agama penyembahan kepada dewa matahari. Setelah Musa mati, orang Israel
kemudian mengingkari Tuhan Musa dan memilih dewa gunung api yang bernama
Yahweh. Tekanan pada penyembahan Yahweh adalah korban-korban. Pada tahap inilah
dalam psikoanalisis, orang-orang Israel memasuki periode pemendaman[15]. Setelah
beberapa abad kemudian, muncullah nabi-nabi yang baru dari agama monoteis.
Nabi-nabi itu membawa misi untuk mengembalikan orang Israel pada Tuhan yang
dibawa oleh Musa dan menjadi cikal-bakal agama Kristen.
4.
Kontribusi Pandangan Freud untuk Mendalami Fenomena Agama
dan Ketuhanan
Saat ini,
fenomena tentang agama-agama masih mewarnai sebagian besar manusia. Pandangan
Freud melalui psikoanalisis berkontribusi dalam melihat asal-usul agama melalui
fenomena totem, tabu (larangan), dan ide yang mendasarinya[16]. Totem
dan tabu ini juga melandasi tatanan sosial dan hidup moral. Dasar pemikiran
Freud adalah pembunuhan ayah oleh anak-anaknya di zaman prasejarah.
Pandangan Freud
juga berkontribusi dalam melihat fenomena hewan totem dan upacara tertentu yang
mengorbankan hewan totem. Dalam agama primitif sendiri, terdapat beberapa hewan
kultis yang biasanya dikhususkan. Hewan-hewan itu misalnya kerbau, sapi, babi,
ayam, dan masih banyak lagi. Dalam paham Freud, hewan-hewan ini merupakan sebagai
simbol kehadiran kembali ayah dari manusia yang telah dibunuh dalam agama
totem. Meskipun demikian, dalam fenomena agama-agama asli sendiri,
binatang-binatang totem itu dikurbankan dan dimakan. Dengan paham Freud, kita
bisa menyimpulkan bahwa tindakan itu menunjukkan cinta mereka kepada ayah yang
dahulu mereka bunuh karena kebencian. Dari sini dapat ditarik juga benang merah
bahwa kepercayaan totem memahami yang adikodrati sebagai ayah. Benang merah ini
sejalan dengan paham psikoanalisis Freud dalam kompleks Oedipus. Pada akhirnya,
kontribusi dari paham Freud tentang kepercayaan tentang agama adalah mengapa
manusia sekarang masih memeluk agama. Menurut Freud, agama merupakan ilusi dari
manusia yang ingin menghibur diri dari realitas hukum alam dengan jaminan
kebaikan di masa yang akan datang. Persatuan dengan Tuhan terjadi dalam roh
sehingga tubuh yang fana tetap akan tinggal. Fenomena ini dianalogikan sama
dengan anak-anak yang meminta pertolongan ayahnya. Dalam cara pandang ini,
unsur agama saat ini yang terlihat dari fenomena agama maupun ritual
dimaksudkan untuk meminta pertolongan dari Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Daniel L. Pals. Nine Theories of Religion Third Edition.
(New York: Oxford, 2015),
Fahmi Riyadi. “Sigmund Freud: Dari Psikoanalisis ke
Agama.” Studi Multidisipliner Volume 2 Edisi 1, 2015 M/1436 H,
Inyiak Ridwan Munir (eds.). Tujuh Teori Agama Paling
Komprekensif. (Ircisod: Yogyakarta, 2011) diterjemahkan dari Daniel L. Pals.
Seven Theory of Religion,
Maghfur Ahmad. “Agama dan Psikoanalisa Sigmund Freud.”
Religia Vol 14 No.2, Oktober 2011
Robert Alun Jones. The Secret of the Totem: Religion and
Society from McLennan to Freud. Columbia University Press: New York, 2005
Sigmund Freud. A General Introduction Psychoanalysis.
(diakses dari pdfbooksworld.com)
[1] Daniel L.
Pals. Nine Theories of Religion Third Edition. (New York: Oxford, 2015),
50
[2] Daniel L.
Pals. Nine Theories of Religion Third Edition. 51
[3] Fahmi Riyadi.
“Sigmund Freud: Dari Psikoanalisis ke Agama.” Studi Multidisipliner Volume
2 Edisi 1, 2015 M/1436 H,
[4] Maghfur Ahmad.
“Agama dan Psikoanalisa Sigmund Freud.” Religia Vol 14 No.2, Oktober
2011, 284
[5] Fahmi Riyadi.
“Sigmund Freud: Dari Psikoanalisis ke Agama.”, 9
[6] Daniel L. Pals. Nine Theories
of Religion Third Edition, 55.
[7] Fahmi Riyadi.
“Sigmund Freud: Dari Psikoanalisis ke Agama.”, 11
[8] Inyiak Ridwan
Munir (eds.). Tujuh Teori Agama Paling Komprekensif. (Ircisod:
Yogyakarta, 2011) diterjemahkan dari Daniel L. Pals. Seven Theory of
Religion, 93
[9] Sigmund Freud.
A General Introduction Psychoanalysis. (diakses dari pdfbooksworld.com), 288
[10] Inyiak Ridwan
Munir (eds.). Tujuh Teori Agama Paling Komprekensif, 95
[11] Daniel L.
Pals. Nine Theories of Religion Third Edition¸ 63
[12] Ibid, 61
[13] Robert Alun
Jones. The Secret of the Totem: Religion and Society from McLennan to Freud.
(Columbia University Press: New York, 2005), 235
[14] Inyiak Ridwan
Munir (eds.). Tujuh Teori Agama Paling Komprekensif, 105
[15] Ibid, 113
[16] Maghfur Ahmad.
“Agama dan Psikoanalisa Sigmund Freud.” Religia Vol 14 No.2, Oktober
2011, 288

Komentar
Posting Komentar