Ajaran Kristiani memiliki inti dan dasar pengajaran. Inti dan dasar teologi Kristiani adalah pewahyuan Allah dalam Yesus Kristus. Ajaran ini berpuncak pada misteri Paskah, yakni sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus (Martasudjita, 2013; 115). Seluruh kehidupan umat Kristiani terarah pada misteri Paskah ini.
Meskipun demikian, umat Kristiani perlu menyadari
pluralitas termasuk agama di dunia ini. Pluralitas agama saat ini dapat
dikatakan mengkritisi masyarakat kontemporer secara keseluruhan yang masih
berpandangan sebatas agamanya sendiri. Saat ini, anggapan yang mengungkapkan
bahwa penerapan teologi bisa dilakukan tanpa menaruh perhatian pada fakta
keberagaman religius adalah kemustahilan.
Keberagaman agama ini tentu membawa pengaruh bagi jemaat
Kristiani. Pluralitas memberikan dua tegangan, yakni tantangan sekaligus
kesempatan bagi jemaat Kristiani dalam kehidupan beriman. Dalam tegangan itu,
teologi Kristen menyediakan paradigma baru, yakni teologi agama-agama.
Apakah teologi agama-agama memadai bagi umat Kristiani
untuk menanggapi ancaman dan menjawab peluang pluralitas agama dewasa ini?
Kita telah memeriksa dan menganalisis setiap paradigma
teologi agama-agama, yakni eksklusivisme, pluralisme, dan inklusivisme. Eksklusivisme
adalah paradigma yang mengemukakan bahwa keselamatan hanya ada dalam Kristus.
Tokoh-tokoh eksklusivisme antara lain Karl Barth dan Hendrik Kraemer.
Pluralisme adalah paradigma yang menekankan bahwa keselamatan ada dalam setiap
agama. Tokoh-tokohnya antara lain John Hick dan Paul Knitter. Sementara itu,
inklusivisme adalah paradigma yang mengakui adanya keselamatan dalam
agama-agama non-Kristiani sambil mempertahankan Kristus sebagai pewahyuan
definitif Allah (D’Costa, 1986; 80). Salah satu tokohnya adalah Karl Rahner.
Ketiga paradigma ini diharapkan dapat berkontribusi bagi
jemaat Kristiani dalam menanggapi pluralitas agama-agama dunia dan membawa
dialog yang berbuah. Analisis telah berpusat pada masalah teologi agama-agama
yang menggunakan dua kriteria, yakni: kesetiaan pada tradisi Kristiani dan
bahan bagi orang Kristen untuk menanggapi secara kreatif keragaman agama. Namun,
teologi agama-agama belum mampu mencukupi kriteria ini.
Dalam rangka menjawab tantangan dan memanfaatkan kesempatan
umat Kristiani untuk berjumpa dengan umat beragama lain, kita telah melihat
bahwa paradigma teologi agama-agama dirasakan kurang. Eklusivisme yang
menekankan bahwa keselamatan dari Allah sendiri melalui Kristus, gagal untuk
mengembangkan satu dari pemahaman besar dari pewahyuan: rencana keselamatan universal
Allah. Lebih dari itu, distingsi antara agama dan pewahyuan membebaskan jemaat
Kristiani dari kebutuhan untuk belajar tentang dan dari agama-agama non-Kristiani.
Sebaliknya, pluralisme menekankan kebenaran atau aksioma rencana keselamatan
Allah yang bersifat universal. Meski demikian, pluralisme menolak dasar dari
kebenaran iman Kristiani yakni rencana keselamatan Allah yang bersifat
universal didapatkan dalam dan melalui Kristus. Sementara itu, inklusivisme
mencoba mendamaikan tegangan antara eksklusivisme dan pluralisme. Inklusivisme
juga berusaha mengisi kekurangan masing-masing paradigma. Meskipun demikian,
inklusivisme juga membuka kemungkinan untuk tidak belajar tentang dan dari agama-agama
non-Kristiani. Dengan demikian, ketiga paradigma teologi agama-agama ini tidak
menyediakan kepada jemaat Kristen pemahaman teologis yang memadai tentang agama
non-Kristen yang menjadi kebutuhan jemaat Kristiani dewasa ini.
Dewasa ini, paradigma teologi agama-agama, yakni
eksklusivisme, pluralisme, dan inklusivisme tidak memadai lagi. Eksklusivisme,
pluralisme, dan inklusivisme hanya sebatas pendekatan-pendekatan teoritis
terhadap keberagaman agama. Padahal, pluralitas agama lebih daripada sekedar
permasalahan teoritis dan tidak cukup terjawab dengan paradigma teologi
agama-agama. Menurut, Y.B. Prasetyantha, perdebatan atas paradigma teologi
agama-agama ini mengalami kebuntuan (Prasetyantha, 2002; 90). Paradigma baru
diperlukan untuk menjawab permasalahan keberagaman agama dewasa ini.
Saat ini, ada sebuah perkembangan baru yang harus
dilakukan dalam Kristianitas dan hubungannya dengan agama lain. Perkembangan
ini memberikan harapan baru bagi jemaat Kristen yang memikirkan hubungan antara
agamanya dengan agama di luar Kristianitas. Sebagian kecil teolog Kristiani
mulai mengemukakan bahwa waktunya untuk berpindah dari pertanyaan-pertanyaan
dan kontroversi yang muncul akibat teologi agama-agama. Paradigma baru
dimunculkan oleh para teolog ini. Penekanannya pada pembelajaran tentang ajaran
dan praktik dari agama-agama non-Kristiani tersebut secara serius. Mereka juga
mulai kembali pada tradisi religius Kristiani dengan pandangan dan pertanyaan
baru serta membagikan pandangan mereka kepada komunitas Kristiani yang lebih
luas. Mereka melampaui kebuntuan teologi agama-agama dengan mengembangkan
teologi secara komparatif. Teologi komparatif ini berbeda dengan teologi
agama-agama. Perbedaan itu terletak pada definisi dan metodenya.
Teologi komparatif dapat menjadi jawaban atas kelemahan
yang dapat ditimbulkan teologi agama-agama bagi jemaat Kristiani. Dari
paradigma teologi agama-agama, jemaat Kristiani dapat jatuh pada ekstrem absolutisme
ataupun relativisme dalam berjumpa dengan agama-agama lain,
non-Kristiani. Teologi komparatif dapat mencegah umat Kristiani untuk jatuh ke
dalam kedua ekstrem tersebut sehingga pluralitas dapat diperhatikan dengan
serius dan juga diterima tidak hanya sebagai fakta tetapi juga sebagai prinsip (Prasetyantha,
2022; 91).
Dalam teologi komparatif tekanan keselamatan universal
dan partikular dalam masing-masing agama dirangkul. Dalam teologi komparatif,
rencana keselamatan universal Allah bagi manusia ditekankan. Akan tetapi,
teologi komparatif juga menunjukkan komitmen seseorang terhadap imannya sejalan
dengan keterbukaan terhadap keyakinan orang lain (Ibid, 91). Dengan
demikian, pluralitas dapat dimaknai secara lebih berbuah.
Teologi Komparatif:
·
Melihat,
mempelajari, seluk-beluk agama lain; melihat bagaimana mereka mengimani imannya
dan melaksanakannya. Kita melihat bahwa dengan caranya sendiri mereka mencari
keselamatan.
· Di satu sisi, kita tetap dengan keyakinan iman sendiri bahwa keselamatan yang ditawarkan dari Allah bersifat universal tetapi diperoleh melalui pewahyuan Yesus Kristus..
Metode komparatif ini sangat mungkin juga digunakan oleh umat beragama lain dalam hidup berdampingan dengan agama lainnya termasuk agama Kristen. Metode ini akan sangat berbuah jika dipraktekan oleh masing-masing umat beriman dalam berdampingan dengan sesama dalam pluralitas di dunia.
Komentar
Posting Komentar