Tulisan Ilmiah Liturgi
A. Kyrie (Masa Adven dan Prapaskah), Jenis Syair dan Melodinya
Lagu Gregorian merupakan salah satu jenis musik yang dapat digunakan dalam misa kudus. Lagu Gregorian biasanya diisi di beberapa bagian tertentu dalam misa. Salah satu lagu Gregorian itu adalah Kyrie. Lagu Kyrie ini ditempatkan dalam bagian tobat dalam misa. Lagu Kyrie merupakan rangkaian musik Gregorian dengan jenis syair ordinarium. Musik Gregorian ordinarium sendiri memiliki nada masing-masing sesuai dengan masa liturgi Gereja. Paper ini membahas secara khusus lagu Kyrie untuk masa Adven dan Prapaskah .
Lagu Kyrie ini termasuk dalam musik liturgi Gregorian dalam bentuk ordinarium. Lagu Gregorian dalam bentuk ordinarium memiliki kekhasan. Kekhasan itu ditandai dengan syair yang tetap pada perayaan Misa . Dalam hal ini, syair pada lagu yang termasuk dalam lagu ordinarium tidak dapat ditambah atau pun dikurangi oleh siapa pun yang tidak memiliki wewenang. Bentuk dari lagu Kyrie ini adalah litani yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Lagu lain yang termasuk dalam satu rangkaian bentuk ordinarium dalam Misa yakni Gloria, Sanctus, dan Agnus Dei.
Lagu Gregorian memiliki tangga nada yang otentik. Tangga nada yang otentik itu disebut tetrachord . Tetrachord merupakan nada dasar khas lagu Gregorian yang terdiri atas empat nada dasar yakni D-E-F-G. keempat nada dasar ini dapat ditemukan pada pola lagu-lagu Gregorian sebagai nada dasar penutupnya. Lagu Kyrie di atas juga menggunakan salah satu nada dasar tersebut. Lagu Kyrie Adven menggunakan nada dasar F sebagai nada penutupnya. Lagu Kyrie ini juga dimulai dengan nada dasar F.
Lagu ordinarium Gregorian memiliki gaya melodi melismatis. Melismatis adalah gaya melodi di mana satu suku kata dari syair lagu mendapat satu kelompok nada . Lagu Kyrie ini juga menggunakan gaya melodi tersebut. Salah satu contohnya terdapat pada suku kata –ri pada kata Kyrie pertama. Pada suku kata ini, terdapat satu kelompok nada yang terdiri dari nada g-f-g. nada ini, jika dituliskan dalam not angka di mana do=f, akan menjadi 212 (bdk PS 339).
B. Latar Belakang/Konteks Lagu Kyrie dan Isinya
Istilah Kyrie merupakan kata yang berasal bahasa Yunani yakni kyrios yang berarti tuan. Pada mulanya, istilah ini digunakan oleh orang-orang Yunani sebagai seruan yang mengungkapkan rasa hormat dan pujian kepada raja atau dewa . Pada saat itu, istilah ini tidak mengandung makna penyesalan atas kesalahan dan dosa.
Masuknya istilah Kyrie eleison dalam liturgi tidak diketahui secara spesifik. Meskipun demikian, istilah Kyrie ini telah mulai digunakan dalam liturgi Gereja Katolik sebelum abad IV. Gereja menggunakan seruan ini dalam arti Santo Paulus yang melihat Tuhan sebagai Yesus Kristus (bdk. Rm. 10:9) . Seruan Kyrie ini kemudian digunakan dalam doa litani di Gereja Timur dan selanjutnya di Gereja Barat. Sementara itu, ungkapan ‘Christe eleison’ baru ditambahkan pada kurun waktu selanjutnya. Sumber literatur pertama yang mengindikasikan pemakaian ‘Christe eleison’ ini terdapat dalam surat Paus Gregorius Agung kepada Yohanes dari Sirakusa pada tahun 598. Istilah Yunani ini masih digunakan dalam liturgi sebagai bentuk pemeliharaan tradisi Gereja.
C. Fungsi dan Tempatnya dalam Peribadatan
Dalam liturgi, lagu Kyrie termasuk dalam jenis litani yang berisi permohonan. Lagu litani merupakan lagu yang berisi doa permohonan yang normalnya diakhiri dengan seruan-seruan yang sama. Artinya, masing-masing bait dari lagu Kyrie dinyanyikan sebanyak dua kali secara bergantian . Misalnya bait pertama yang berisi syair ‘Kyrie eleison’ dinyanyikan sebanyak dua kali. Pola itu berlaku pula pada bait-bait selanjutnya sehingga syair ‘Christe eleison’ dan ‘Kyrie eleison’ pada bait selanjutnya masing-masing dinyanyikan sebanyak dua kali.
Lagu Kyrie merupakan lagu liturgis yang juga memiliki fungsi integral dalam liturgi. Fungsi dari lagu ini yaitu mengungkapkan seruan dan salam kepada Tuhan Yesus . Seruan kepada Tuhan itu terdiri atas dua bagian yakni menyatakan penghormatan kepada Tuhan Yesus dan kemudian permohonan belas kasihan-Nya. Wujud penghormatan kepada Yesus diwakili dengan ungkapan Kyrie dan Christe. Sementara itu, wujud permohonan belas kasihan-Nya diwakili dengan ungkapan eleison.
Dalam liturgi, lagu Kyrie merupakan salah satu opsi mengungkapkan tobat dalam ritus pembuka. Jika doa tobat yang digunakan adalah cara 1 atau 2, lagu Kyrie dinyanyikan langsung setelah doa tobat tersebut. Lagu Kyrie juga bisa dinyanyikan secara selang-seling dengan ungkapan pernyataan tobat dengan cara 3. Meskipun termasuk dalam rangkaian lagu ordinarium, penggunaan lagu Kyrie bersifat fakultatif. Hal ini terjadi karena tingkatan lagu-lagu ordinarium tidak sama. Dalam tingkatannya sebagai lagu ordinarium, lagu Kyrie bisa ditiadakan jika lagu pembuka telah memuat pernyataan tobat.
D. Catatan Kritis bagi Musik Liturgi Gereja Sat Ini
Konsili Vatikan II memberikan arah dasar penting bagi perkembangan musik liturgi saat ini. Arah dasar itu termuat secara khusus dalam Sacrosanctum Consilium bab VI, artikel 112-121. Inti dari dokumen itu termuat dalam SC 112 yang mengungkapkan bahwa musik liturgi merupakan bagian integral dan penting dalam liturgi, bukan hanya sebagai selingan atau tambahan dalam liturgi . Peran penting musik liturgi sebagai bagian dari liturgi itu sendiri terlihat dari nyanyian-nyanyian liturgi termasuk lagu ordinarium. Salah satu contohnya, lagu Kyrie sebagai rangkaian lagu ordinarium berisi seruan kepada Yesus sekaligus permohonan tobat kepada-Nya.
Posisi musik liturgi sebagai bagian penting atau integral dari liturgi itu sendiri mengharuskan umat untuk mengambil bagian secara aktif. Partisipasi aktif itu ditunjukkan umat dengan turut aktif menyanyikan sambil menghayati setiap musik liturgi dalam perayaan liturgi. Keterlibatan aktif umat itu sungguh ditekankan terutama dalam SC 14. Musik liturgi akan mengantarkan umat pada misteri iman. Misteri iman yang dihayati melalui keterlibatan aktif setiap orang akan berdampak tidak hanya sebatas individual saja tetapi juga secara komunal . Dalam hubungannya dengan lagu Kyrie, peran serta untuk bernyanyi tidak hanya dilimpahkan kepada petugas atau kor saja tetapi juga seluruh umat mempunyai tanggung jawab untuk turut serta dalam pengungkapan imannya dalam liturgi.
Iman umat dalam seluruh kehidupannya termasuk dalam liturgi berpusat pada misteri Kristus. Fungsi musik liturgi itu sendiri dalam liturgi adalah memperjelas misteri Kristus. Fungsi musik liturgi seperti demikian ditampilkan dalam isi syair dan melodinya . Isi syair lagu Kyrie yang berupa seruan kepada Yesus dapat membantu umat memperdalam misteri iman akan Yesus Kristus. Melodi lagu Kyrie yang sesuai dengan masa adven dan prapaskah membantu umat merenungkan perjalanan imannya dalam masa liturgi tersebut. Apalagi isi syair dan melodi dari lagu Kyrie ini merupakan satu kesatuan yang khas sebagai tradisi Gereja yang diwariskan turun-temurun. Oleh karena itu, selain gerakan inkulturasi musik liturgi saat ini, lagu Gregorian pun harus mendapatkan pula tempat dalam liturgi umat beriman saat ini (bdk. SC 16 & PUMR 41).
LAMPIRAN
1. Lagu Kyrie (Adven dan Prapaskah) dalam notasi asli lagu Gregorian
Sumber: Chants for the Ordynary of the Mass
2. Lagu Kyrie (Adven dan Prapaskah) dalam notasi angka
Sumber: Puji Syukur
DAFTAR PUSTAKA
Chants for the Ordynary of the Mass, Kyrie, CMAA: USA, 107
Komisi Liturgi KWI. Puji Syukur. Obor: Jakarta, 1993.
Martasudjita, E. & J. Kristanto. Panduan Memilih Nyanyian Liturgi. Kanisius: Yogyakarta, 2007
Martasudjita, E. Liturgi-Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi. Kanisius: Yogyakarta, 2011
Prier, Karl-Edmund. Kamus Musik. Rejeki: Yogyakarta, 2009
Prier, Karl-Edmund. Kedudukan Nyanyian dalam Liturgi. Pusat Musik Liturgi: Yogyakarta, 2013
Prier, Karl-Edmund. Sejarah Musik Jilid 1. Pusat Musik Liturgi: Yogyakarta, 1991
Suryanugraha, C. H. Melagukan Liturgi Menyanyikan Misa. Kanisius: Yogyakarta, 2015
Suryanugraha, C.H. Lakukanlah Ini Sekitar Misa Kita. SangKris: Bandung, 2003.
United States Conference of Catholic Bishop. Sing to The Lord: Musik Divine Warship-Pastoral Liturgi Series 4. USCCB: Washington DC, 2007


Komentar
Posting Komentar