Sejarah Perkembangan Gagasan Mesianik dalam Tradisi Perjanjian Lama dan Pergeserannya Menjadi Pengharapan akan Datangnya Sosok Mesias pada Masa Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, masing-masing
penginjil mempunyai masing-masing memiliki konsep Kristologi dan tujuan yang
khas. Tujuan penulisannya dan konsepsi Kristologi itu berbeda karena tujuannya
juga berbeda. Konsep Kristus atau Mesias dalam bahasa Ibrani sebenarnya sudah
ada sejak Perjanjian Lama.
Kata Kristos/Kristus berasal dari kata
Kyrie yang berarti mengurapi. Arti ini merujuk pada semua yang diurapi biasanya
dengan minyak. Istilah diurapi ini merujuk pada penggunaan kata pasif. Pertanyaannya,
siapa yang biasanya yang diurapi? Mereka adalah imam, nabi, raja. Jadi semua
benda dan barang yang diurapi disebut Kristus. Dalam bahasa Ibrani, Kristus
artinya Mesias. Namun, Mesias dalam istilah khusus kemudian ditujukan kepada
orang yang diurapi sebagai utusan Allah. Paham tentang Mesias sebagai utusan
Allah ini berkembang juga dalam Perjanjian Baru dan juga terlebih khusus di
zaman kehidupan Yesus. Pengakuan-pengakuan tentang Yesus sebagai Mesias pasti dilatarbelakangi
keadaan pada zaman itu. Pembicaraan tentang Mesias sudah ada pada zaman Yesus
gambaran tradisional tentang siapa itu Mesias pun sudah ada. Pada saat Petrus dan
para murid hidup bersama Yesus, gagasan mesianik pasti sudah ada di kepala para
murid. Ketika mereka melihat Yesus dan berkarya, konsep mesianik umum sudah
menjadi kenyataan bagi Petrus dalam diri Yesus. Petrus dalam pengakuannya
adalah wakil dari orang-orang Yahudi yang hidup dengan paham mesianik
tradisional.
Kisah dalam perjanjian
lama khususnya dalam Kitab 2 Samuel 7:12, amat berkaitan dengan konsepsi umum
mesianik yang berkembang di kalangan orang Yahudi. Bacaan 2
Sam 7:12 adalah Nubuat berkaitan dengan anak keturunan Daud yang diurapi. Dalam
kisah ini karakter Mesias ditunjukkan yakni “Anak keturunan Daud, kerajaannya
dikokohkan untuk selama-lamanya,” (bdk. 2 Sam 7:12-16). Janji ini
ditujukan untuk anak keturunan Daud agar meraja. Harapannya sesudah Daud ada figur yang dapat
menggantikan Daud seperti Salomo yang membangun Bait Allah. Akan tetapi,
raja-raja Israel selanjutnya tidak bisa diharapkan. Bahkan kehidupan raja-raja keturunan
Daud selanjutnya sangat mengecewakan. dari situ, pergeseran pemahaman
terjadi dari janji dan pengharapan yang konkret menjadi “pengharapan
eskatologis tentang kehadiran Mesias yang sungguh nyata”.
Mendekati zaman Yesus,
para nabi sudah membahas Imanuel yang konkret. “Allah akan menghadirkan tunas
adil bagi kerajaan Daud” (bdk. Yer 23:5). Orang Yahudi menanti-nantikan kapan Mesias datang.
Tradisi inilah yang ada dalam suasana Yesus. Dalam perjalanan kemudian, tidak
lagi ditujukan hanya keluarga Daud sebagai raja tetapi juga sosok seorang imam
atau nabi.
Konsep mesianik Perjanjian
Lama ini mengalami kontinuitas dan diskontiunitas dalam Perjanjian baru. Gagasan
yang sama/kontinuitasnya adalah Mesias adalah Ia yang diurapi atau juga imam,
nabi, atau raja. Sementara itu, gagasan yang berbeda/diskontinuitasnya adalah
Mesias yang menderita untuk kemudian dimuliakan. Gagasan mesianik Perjanjian Lama
mengarah pada hal duniawi. Karenanya, setelah mati, gerakan mesianik politik
seorang tokoh biasanya menghilang seiring kematiannya. Sementara itu, gagasan
mesianik Perjanjian Baru bersifat rohani. Gagasan Yesus sebagai Mesias yang
menderita ini tentu sulit dipahami oleh para murid yang hidup dalam gagasan
tradisional mesianik. Baru setelah peristiwa kebangkitan, para murid terbantu
dan semakin memahami Yesus sebagai Mesias. Kebangkitan, membuat gelar mesianik
Yesus mendapat konfirmasinya.
Komentar
Posting Komentar